Khusus topic TRAVEL masih menggunakan Bahasa Inggris gunakan tool disamping untuk Menterjemahkan halaman tersebut.

Asal Nama Silahi Sabungan Serta 4 Pusaka .

Wednesday, May 2, 2012







Horas !!
Beberapa bulan yang lalu saya memposting tentang Silahi Sabungan Juga dan ini adalah Artikel ke 2 yang
saya ketik untuk kita semua yang membutuhkan artikel ini dan semoga saja berguna untuk  kita semua .
Untuk artikel yang pertama anda bisa Click di sini untuk melihat Keturuna Raja Silahi Sabungan dan Saya juga menyertakan Foto-Foto Dokumentasi dan Foto Tugu serta Raja-Raja nya.
ok baiklah semoga artikel ini bisa bermanfaat dan semoga anda suka .

SELAMAT MEMBACA
***
Nama Raja Silahisabungan berasal dari bahasa Batak mula-mula yakni: Silahi berarti seorang laki-laki dan Sabungan berarti petarung atau pendekar. Silahisabungan dapat diartikan menjadi seorang laki-laki yang pandai bertarung. Hal ini tampak ari relief-relief yang terdapat pada tugu/makam Raja Silahisabungan.
Pada perkembangan selanjutnya nama Raja Silahisabungan dijadikan marga yaitu Silalahi. Raja Silahisabungan merupakan raja dan seorang pendekar sakti yang juga datu (dukun) yang sakti, yang pada awalnya berasal dari suatu daerah yang bernama Balige dan merantau ke suatu daerah di sebelah Barat tepian Danau Toba yang saat kini disebut Desa Silalahi Nabolak, yang pada waktu itu masih berbatasan dengan Paropo.
Dalam masa hidupnya Raja Silahisabungan banyak meninggalkan pusaka-pusaka baik, yang dibuat langsung olehnya sendiri maupun keturunannya. Keseluruhan pusaka tersebut dapat menjadi suatu tanda kesalian budaya Indonesia sekaligus menjadi bukti nyata dari kejayaan bangsa Indonesia pada masa silam. Adapun pusaka-pusaka tersebut yakni:

Pusaka Pertama yaitu pusaka yang berupa marga-marga pomparan Raja Silahisabungan seperti:
Loho Raja (Haloho),
Nungkir Raja (Situngkir),
Sondi Raja (Rumah Sondi),
Butar Raja ( Sinabutar),
Dabariba Raja (Sidabariba),
Debang Raja (Sidebang),
Batu Raja (Pintu Batu)
yang dilahirkan oleh isteri pertama Raja Silahisabungan yaitu Pinggan Matio boru Padangbatanghari, dan Tambun Raja (Tambunan) yang dilahirkan oleh isteri keduanya Siboru Nailing boru Nairasaon. Semasa hidupnya Raja Silahisabungan adalah seorang yang sering merantau ke berbagai wilayah di Sumatera Utara, sehingga ada pula dari berbagai daerah tersebut yang disamakan dengan marga Silalahi, di antaranya: Sembiring dari Karo,
 Sipayung dari Simalungun,
 Telembanua dari Nias.
Pada perkembangan selanjutnya putera dari Raja Silahisabungan mempunya keturunana yang juga dijadikan marga pomparan Raja Silahisabungan, yakni: Dolok Saribu, Sinurat, dan Nadapdap. Pusaka marga inilah yang sampai sekarang masih dipertahankan oleh pinompar (keturunan) Raja Silahisabungan khususnya, dan suku Batak umumnya.

 Pusaka Kedua Raja Silahisabungan yaitu berupa nasehat yang disebut denga Poda Sagu-sagu Marlangan, yang secara harfiah: Poda berarti nasehat dari orang memiliki kewenangan,
 Sagu-sagu berarti semacam bentuk kue orang Batak yang dibuat dari tepung beras dengan bentuk tertentu misalnya dengan menggenggam dan tetap mempertahankan bentuk genggamannya,
Marlangan berarti berwarna pucat. Poda Sagu-sagu Marlangan ini disampaikan oleh Raja Silahisabungan pada suatu acara pemberangkatan anaknya Tambun Raja ke Sibisa untuk menemui tulangnya Manurung. Tujuan disampaikannya Poda Sagu-sagu Marlangan ini adalah untuk menjaga agar di kemudian hari tidak ada anggapan dari ketujuh saudara si Tambun Raja bahwa Tambun Raja bukanlah anak dari Raja Silahisabungan, sekaligus untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara keturunan Raja Silahisabungan. Adapun isi dari dari Poda Sagu-sagu Marlangan tersebut dalam bahasa Batak Toba yakni:


1.INGKON NASIHALONGONGAN SAMA HAKU RO DI POMPARANMU, SISADA ANAK SISADA BORU NA SO TUPA KASIOLIAN, TRLUNOBI PONPARANKU NA PITU DONOT POPAR ANGNI ANGGIKU SI TAMBUN ON.
2.INGKON KUMOLONG ROHAMU NA PITU DOHOT POMPARANMU TU BORU POMPARAN NI ANGGIMU SI TAMBUN ON,SUANG SONGON I NANG NO TAMBUN DOHOT POMPARANMU INGKON ROHAM DI BORU POMPARAN NI HAHAM NA PITU ON.
3.TONGKA DOKONMU NA WALU NASO SAINA HAMU TU PUDIAN NI ARI
4.TONGKA PUNGKAONMU BADA MANANG SALISI TU ARI KA NAENG RO
5.MOLO ADONG PARBADAAN MANANG PARSALISIAN DI HAMU, INGKON SIAN TONGA – TONGAmU MA SITAP TOLA, SIBAHEN UNUM NA TINGKOS NA SO JADI MARDINGKAN, JALANA SO TUPA HALAK NA ASING PASAEHON.

 Pusaka Ketiga yaitu berupa dua buah batu keramat yang dipercayai mempunyai kekuatan mistik. Batu ini berbentuk memanjang dengan posisi, satu berdiri (jongjong) dan satu lagi tergelatak (gadap). Oleh penduduk Desa Silalahi, kedua batu tersebut dinamakan batu Sijongjong dan batu Sigadap, batu ini disebut Batu Panungkunan. Hingga sekarang batu ini masih masih ada dan dipercaya kebenarannya. Apabila kebenaran dan ketidakbenaran seseorang hendak diuji, maka dibawalah orang tersebut datang ke batu tersebut. Seseorang yang berani meletakkan sirih di kedua batu ini dan ingi nmengetahui kebenaran dan ketidakbenarannya dalam suatu perkara, maka apabila dia benar maka dia akan selamat seperti batu yang berdiri, namun apabila dia bersalah , dia akan gadap alias mati.

Pusaka keempat dari Raja Silahisabungan yaitu berupa pusaka buat namun bernilai sejarah, yakni Tugu/Makam Raja Silahisabungan yang dibangun oleh keturunan ari delapan orang puteranya. Tugu/makam ini baru selesai dibuat dan diresmikan pada tanggal 23-27 Nopember 1981 yang lalu dengan upacara adat yang sangat besar. Tugu/makam ini dirancang sedemikian rupa, sehingga setiap bentuk mengandung makna dan maksud tertentu. Pada peresmian tanggal 24 Nopember yang lalu (1981) ,
perencana teknik pembangunan tugu/makam tersebut yakni Ir. Parlindungan Silalahi Sondi Raja memberikan penjelasan yang konkrit mengenai bentuk dan arti dari tugu/makam tersebut. Tingkatan dari pelataran sampai puncak tugu merupakan cita-cita yang tinggi dari semua pomparan Raja Silahisabungan. Tinggi dan kolom-kolom yang berada di bawah pelataran menggambarkan bahwa pomparan Raja Silahisabungan merupakan manusia kerja.
Bagian lengkung merupakan gambaran sikap toleransi warga Silahisabungan. Pintu-pintu menggambarkan keterbukaan hati manusia. Persegi delapan dari kontruksi menara menggambarkan jumlah putera Raja Silahisabungan. Obor di puncak tuga merupkan penyuluh, instruktur, pemberi bimbingan dan advis. Relief pada dinding segi delapan dari konstruksi menggambarkan kehidupan dan penghidupan Raja Silahisabungan. Hiasan-hiasan geometris dengan warna merah, putih, dan hitam adalah warna tritunggal tradisional dari suku Batak.
Tugu/makam ini sebenarnya terdiri dari 3 (tiga) bagian penting di luar dan di dalamnya, yaitu: lantai yang dapat dicapai para perziarah/masyarakat umun, sebuah makam tempat tulang-belulang Raja Silahisabungan dan kedelapan puteranya disemayamkan. Tugu/makam ini dibangun di atas sebidang tanah dengan ukuran 71 meter kali 33 meter, dan ukuran ini juga mempunyai makana khusus yakni: tujuh dan satu menandakan kedelapan puteranya bersatu membangun tugu/makam tersebut, dengan gondang sebanyak 33 buah (bukan gondang sebagai alat musik tetapi berupa lagu), antara lain: 11 buah Gondang Namartua, 11 buah Gondang Saniang, dan 11 buah Gondang Debata. Untuk mengikat rasa persatuan keturunan Raja Silahisabungan, maka diadakan berupa ulang tahun tugu setiap tahunnya, dengan panitia penyelenggara ditunjuk bergilir dari marga Loho Raja (Haloho) hingga marga Tambun Raja (Tambunan),dan seterusnya. Pesta ulang tahun ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan sebagai suatu cara untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada wisatawan asing maupun domestik.
 (Beberapa orang Keturunan Raja Silahisabungan berphoto di Tugu Raja Silahisabungan) Keempat pusaka inilah yang hingga kini masih dipertahankan oleh keturunan Raja Silahisabungan dan merupakan wujud nyata dari kejayaan budaya Indonesia umumnya, Raja Silahisabungan khususnya. Pusaka-pusaka tersebut juga merupakan suatu titik awal untuk mengingkatkan wisata budaya Indonesia. Untuk itu dibutuhkan perhatian dari seluruh kalangan masyarakat dan pemerintah khusunya keturunan Raja Silahisabungan.

 (saya kutip dari Harian Sinar Indonesia Baru, tanggal 22 Januari 2006).

OK .... bagaimana ??
menarik bukan.
tolong tinggalkan komentar anda dan Tolong Like serta Shared Juga .. Terima Kasih Karena Sudah mau Mampir di Blog saya ini .

Salam Buat Kita Semua , Horas  ...



GUYS ini aku Buat Video Lagu Poda-Poda Marlangan ... Ntar di Share Yea..

Thank you for visited Us, Leave your Comment and Don't Forget to Share :) *Nakarasido Hita*
from
US$ 133
one night

Location: Bali, Indonesia
Customer Satisfaction 79 %

Hard Rock Hotel Bali is perfectly situated in the Kuta-Legian district of Bali, near major shopping...
More Information

New Articles